Saturday, 19 May 2012

Brokenhearts [2012]


Sungguh ingin tertawa bahagia ketika pertama kali melihat teaser poster film ini dirilis via twitter tahun lalu. Semua temen-temen gue sangat excited melihat daftar pemain yang bisa dibilang mempunyai jam terbang cukup baik. Tapi setelah tahu siapa nama di balik bangku sutradara, mereka langsung bereaksi: ‘are you seriously kidding me?’.

Jangan salahkan reaksi mereka, salahkan track record Helfi Kardit yang, yah… setelah horror-hororan nggak jelas yang membuat jengah penonton itu, dia kembali hadir dengan gagasan yang sudah disimpan 10 tahun lamanya.

Berawal dari naskah berjudul Ikhlas, kisah melodramatis ini hadir membombardir kita tanpa segan dengan keklisean menyedihkan ala perfilman Indonesia. Seolah belum cukup, akting ketiga pemeran utama juga dibelenggu oleh karakter picisan yang tak mempunyai nilai gerak selain harus berakting sesuai aturan di atas kertas.

Brokenhearts awalnya benar-benar sungguh meyakinkan. Sajian kaum urban bisa kita lihat dalam sosok Olivia (Julie Estelle) dengan segala pernak-pernik khas novel chicklit atau metropop. Namun seiring berjalannya waktu, kisah tersebut menjadi usang lantaran kasus yang tak pernah bisa ditanggulangi dengan baik; menghadirkan sebuah penyakit yang tak jauh-jauh dari kanker bla-bla-bla, dengan eksekusi seadanya.

Come on, apa harus itu saja momok untuk membuat penonton Indonesia meneteskan berember-ember air mata karena bosan melihat kebodohan yang tak pernah berhenti?

Sia-sia, sungguh hanya membuang waktu bagi Helfi untuk menuangkan film impiannya ini jika akhirnya hanya akan menjadi bahan bergunjing; dialog puitis nan absurd, antiklimaks dan dipenuhi muatan plot hole, plus—seolah belum cukup—kebodohan demi kebodohan menyesatkan.

Tak perlu menjelaskan secara detail, yang jelas film ini telah membuang bakat terbaik dari tiga pemeran utama, especially Reza Rahadian yang harus diet khusus demi filmnya. Sayang cara dia memilih peran nggak seniat Christian Bale dalam The Machinist atau The Fighter.

Catatan khusus buat Starvision; lain kali kalo mau promo nggak perlu lah bikin leaflet atau materi promosi yang akhirnya menjadikan penonton Indonesia seperti dibodohi dengan terbacanya spoiler bukan dari sinopsis aja, tapi juga trailer. So please, bersikaplah pintar seiring kepintaran penonton Indonesia yang mengharapkan tontonan berkualitas sebelum menjadi boomerang!

NB: Denger-denger naskah film ini mau dipelajari sineas Korea untuk proses remake. Baiklah... :)

Score: 3/10

No comments:

Post a Comment