Tuesday, 19 June 2012

Di Timur Matahari [2012]



Review Ini Mengandung Spoiler. Jangan Dibaca. Tapi Kalo Penasaran Gak Papa :)

Sejauh ini, Alenia Pictures merupakan rumah produksi yang konsisten dalam setiap karyanya. Instead of menjadi follower jenis film apa-bagaimana-mengapa bisa tren di bumi pertiwi yang perlahan dikuasai kaum berjubah putih (in fact dihuni oleh lima paham agama bahkan lebih), PH yang didirikan oleh pasangan Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale ini setia dengan satu tujuan, mencerdaskan anak dengan hati.

Meski terdengar seperti slogan pendidikan, tapi Alenia mampu bertahan dengan satu tujuan mulia itu. Absen saja mulai dari Denias: Senandung Di Atas Awan, King, Tanah Air Beta hingga Serdadu Kumbang, mereka selalu menawarkan kekayaan alam Indonesia sebagai setting dengan menjadikan anak-anak sebagai main role.

Di Timur Matahari ini masih menggunakan pakem yang sama. Menggunakan pendatang baru berusia belia (yang ikut tenggelam bersama filmnya setelah habis masa tayang), bersetting di tempat-tempat jarang tersentuh namun memiliki keindahan ruar biasa hingga sajian pesan-pesan sosial.

Unfortunately, seolah kekeringan ide, semakin bertambah tahun film-film Alenia semakin terseok-seok dari segi penawaran cerita. Dalam bentuk ringkasan mungkin terlihat lumayan. Namun begitu terhidang dalam bentuk visualisasi, taji seperti yang dihadirkan dalam Denias menguap entah kemana.

Di awal film kita seolah diajak untuk mengikuti sulitnya mendapatkan pendidikan di Timur Papua, namun semakin durasi berjalan, film yang naskahnya ditulis oleh Jeremias Nyagoen seolah kehilangan kontrol. Selaras dengan Soegija yang rilis satu minggu sebelumnya, film ini juga nggak sefokus muka gue.

Ari Sihasale, sebagai sutradara, memang semakin terlihat mumpuni, namun naskah film ini berbicara lain. Ibarat ngomong, kita kayak lagi ngomong sama orang budeg. Kita ngomong A, dia ngomong B, tapi kita tetep maksa buat sok-sokan ngerti. Apapun istilahnya, film ini lari kesana, lari kesini tanpa struktur yang jelas.

Lebih parah lagi, ending Di Timur Matahari sangat watdefak secara harfiah, bukan ungkapan kagum. Nggak tahu salah atau mungkin cuma perasaan gue aja, ending film ini, asli, norak jaya. Coba ya, mana ada sih di tengah perang antar kampung yang memakai panah-panahan gitu, semua terselesaikan hanya karena nyanyian. Iyes, nyanyian anak kecil. Parahnya, semua peserta tawuran mendadak ikutan nyanyi bahkan berputar-putar membentuk lingkaran. Tok tok tok, anak TK darimana?

Seolah nggak cukup parah, sebelum menuju ending kita bakal diperlihatkan jajaran aktor-aktris ternama yang mencoba berakting dengan baik seolah bakal mendapatkan piala FFI yang efeknya uda nggak sementereng dulu. Padahal peran mereka teramat dangkal sedangkal otak KK Dheeraj. Gosh, naskah ini membuang bakat-bakat terbaik yang ada.

And well, gara-gara film ini gue mulai mengikuti tren tak fokus film-film Indonesia yang harusnya menjadi baik dan memberi warna tersendiri. Semoga kalian tetep fokus sama maksud apa yang ingin gue sampein. Salam super! Salam satu jiwa!

Score: 4/10

No comments:

Post a Comment