Saturday, 2 June 2012

Gerimis Mengundang [2012]


"Ku sangka kan panas berpanjangan, rupanya gerimis, rupanya gerimis mengundang... Dalam tak sedarku kebasahan..."

Masih ingat lirik lagu Slam di atas? Heaven yeah, itu adalah salah satu lagu Malaysia populer yang sempat booming di Indonesia pada tahun 90-an. Setelah lama berlalu, pada akhir Maret sampai awal April 2012 lalu dipentaskan sebuah teater musikal yang diadaptasi dari lirik lagu ciptaan Saari Amri tersebut.

Selang dua bulan, rilislah film bertajuk Gerimis Mengundang yang dikembangkan dari naskah teater musikal setelah mendapat respon positif ketika pentas di Istana Budaya, Malaysia. Gerimis Mengundang sendiri merupakan kolaborasi Indonesia dan Malaysia yang diharapkan bisa menjadi penggerak roda kerja sama seperti yang diharapkan oleh Kofi Malindo a.k.a Kolaborasi Film Malaysia-Indonesia yang didirikan salah satu pengurus Parfi, Naldy Nazar, dengan Datuk Md. Efendi Haji Hamda dari Malaysia.

Well, cukup sekian sekilas info tentang sejarah awal film ini. And then gue bakal mereview filmnya dengan sangat baik dan benar. Gini deh, sebagai movie-buff amatir, gue jarang banget nonton film Malaysia. Pertama karena gaya bahasa yang yah, tau sendirilah. Meski begitu, nggak menutup kemungkinan gue lihat film produksi mereka dan suka. Sejauh ini gue sempet nonton film-film mereka meski nggak sampai habis karena kendala bahasa. Untungnya sempet menamatkan ...Dalam Botol yang diklaim sebagai film gay pertama di sana. Dan sialnya gue juga sempet nonton film bertajuk Seru yang, damn, film apaan sih?

Kemaren, dengan tekad bulat, meyakinkan diri bahwa ini tujuan mulia (dari Hongkong), gue datang ke bioskop untuk menonton film arahan Ahmad Idham Ahmad Nadzri yang katanya produktif banget di Malaysia. Baiklah, produktifan mana sama Nayato?

Begitu film tayang, gue udah berusaha sekuat tenaga untuk nggak walk out. Gue berdoa, merapal mantra kelas teri sampai kelas berat dan, fortunately, berhasil. Hell, gue berhasil menamatkan film ini meski udah nggak tahan pengen makan kursi.

Jadi gini, sebenarnya nggak ada yang salah sama filmnya. Mungkin yang salah itu gue karena udah tau film ginian masih aja ditonton. Jadi Gerimis Mengundang tuh berkisah tentang seorang vampir bernama Edward Cullen yang jatuh cinta sama manusia bernama Bella.

Intinya, film ini membosankan. Sangat-sangat membosankan. Gue dipaksa melihat keklisean dengan kadar yang tidak-tidak. Belum lagi musik pengiring yang naudzubillah, di zaman serba high-tech, kenapa tatanan ala film Bollywood jaman Shah Rukh Khan belom lahir masih dibawa-bawa. COME ON!

Ini belum soal akting dari kedua pemainnya yang kancrut banget. Iya dua-duanya kancrut. Baik yang dari Indonesia ataupun Malaysia. Untuk kali ini gue harus bersikap adil karena Olivia Jensen memang benar-benar buruk dibalik wajah cantiknya itu. Gue jadi bayangin gimana menderitanya gue kalo peran Mikha tetap dibawakan oleh Mikha Tambayong seperti dalam pentas teaternya.

Untungnya, gue masih bisa menarik hal-hal positif dari film ini. Yup, ada beberapa dialog yang intinya sih: "WOI, KITA INI NEGARA SERUMPUN, BAHASA AJA HAMPIR SAMA (cuma logatnya beda) KENAPA KITA NGGAK KERJA SAMA BUAT PERKEMBANGAN BANGSA MASING-MASING?"

Intinya sih gitu aja, biarlah urusan politik pasang surut. Biarlah user youtube ngebacot apaan tau soal Indonesia yang dikata-katain dan orang malaysia yang bales ngata-ngatain. Biarkan mereka seperti itu asal kita jangan.

At least gue dukung lah kalo sineas Malaysia mau kerja sama dengan sineas Indo. Sapa tau kita bisa heboh bikin film kayak Hikayat Merong Mahawangsa, which is film-nya udah keren gilak untuk ukuran Malaysia. Tau sendiri perfilman kita masih jalan sambil geal geol aerobik. Nggak kemana-mana selain modal kancut, belahan dada, pocong dan kuntilanak doang. Be please.

Cuma gue nggak ngedukung juga kalo film yang dirilis kualitasnya kayak Gerimis Mengundang ini. Hell, ini lebih parah dari dedramaan yang sering beredar di Indonesia! Harusnya produksi film apaan kek yang  bisa meyakinkan penonton kalo kerja sama ini perlu.

Score: 2/10

No comments:

Post a Comment